Camilan Sehat Zaman Now Miliki Kalori Sedikit? Ini Kata Ahli Gizi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi buah dan sayur. shutterstock.com

    Ilustrasi buah dan sayur. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak dapat dipungkiri jika menghentikan kebiasaan ngemil bukan perkara mudah. Terlebih dalam kondisi seperti saat ini ketika semuanya terpaksa dilakukan dari dalam rumah, termasuk belajar dan bekerja. Hasrat ngemil makin sulit dikendalikan. Bahkan sebagian orang mengaku sulit berkonsentrasi saat bekerja di rumah tanpa ditemani camilan karena terus-terusan merasa lapar. Alhasil, dalam waktu kurang dari satu bulan berat badan melonjak.

    Mungkin ada yang mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan membeli camilan sehat yang diklaim rendah kalori. Camilan tersebut biasanya dibuat dari kombinasi sereal dan biji-bijian tertentu.

    Apakah camilan sehat yang harganya sudah barang tentu lebih mahal dibandingkan camilan pada umumnya itu layak jadi teman kerja Anda di rumah? Faktanya, jika diakumulasi kalori yang dikonsumsi lewat camilan tersebut tak jauh berbeda dengan camilan yang selama ini dianggap tidak sehat lantaran berkalori tinggi dan kadar nutrisinya rendah.

    Ahli gizi Tan Shot Yen memberikan contoh kalori yang dari salad salmon dan quinoa yang dianggap sebagai camilan sehat tak ada bedanya dengan satu loyang pizza. Siapa menyangka jika jumlah kalori salad salmon dan quinoa yang terlihat sehat sebesar 900 kalori.

    Demikian halnya dengan camilan dari kombinasi sereal dan biji-bijian yang biasanya ditemani secangkir kopi. Terlihat lebih sehat karena kalorinya diklaim rendah. Tetapi faktanya, jika diakumulasi kalori yang dikonsumsi selama sepekan dari camilan tersebut sebesar 5.054 kalori. Lebih besar dibandingkan dengan kalori dari 16,5 burger keju dari restoran cepat saji sebesar 4.966 kalori. "Yang kelihatannya sehat jika tidak paham isi sebenarnya urusan bisa ngeri," katanya kepada Bisnis pada Senin 6 April 2020.

    Jika demikian bagaimana solusinya? Apakah ada cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan rasa lapar atau setidaknya mengerem hasrat untuk mencamil?

    Tan menjelaskan upaya yang dapat dilakukan agar tidak terus menerus merasa lapar adalah menambah asupan serat saat makan besar di pagi, siang, dan malam hari. Selain itu, konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi dan makanan ultra proses juga harus dihentikan. "Masalah orang kebanyakan tidak cukup sayur dan buah. Nggak ada serat. Makanan tinggi gula rafinasi atau industri. Makanya lekas lapar. Untuk karbohidrat yang berserat itu sehat ya," ungkapnya.

    Untuk makanan ultra proses yang dimaksud adalah makanan dengan tambahan bahan tertentu atau food addivites seperti gula rafinasi, garam, lemak, perisa, penguat rasa, dan sebagainya. Biasanya makanan tersebut adalah makanan praktis yang disukai lidah.

    Selain itu, makanan ultra proses juga ada yang dibuat dari bahan kimia dan dibuat agar bisa menyerupai bahan aslinya.

    Lebih lanjut, Tan mengatakan alih-alih mengurangi konsumsi secara perlahan, alangkah lebih baik jika konsumsi makanan tidak sehat itu benar-benar dihentikan. "Pelan-pelan tidak membuat orang berhenti sama sekali. Sama seperti pelan-pelan kurangi rokok. Berhenti? Tidak. Tetapi jika dokter sudah bilang kanker paru? Nah berhenti," tegasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.