Kaitan Asma dan Mitos soal Inhaler

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan inhaler merupakan cara paling penting dalam pengobatan asma. Akan tetapi, beberapa orang masih percaya mitos inhaler dapat membuat ketagihan hingga mengandung steroid.

    Berikut mitos dan fakta tentang inhaler yang digunakan oleh penderita asma menurut Dr. Vikas Mittal dari Rumah Sakit Spesialis Max Super di Shalimar Bagh, India, dikutip Indian Express.

    Membuat ketagihan?
    Faktanya, asma adalah penyakit jangka panjang yang dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diresepkan dalam bentuk inhaler. Asma tidak memiliki obat dan inhaler bertindak sebagai penyelamat bagi sebagian besar pasien asma.

    Inhaler meringankan pasien untuk jangka pendek juga jangka panjang. Kadang-kadang diberikan sesuai kebutuhan hanya untuk jangka pendek atau secara teratur untuk membantu mengatasi kondisi. Ini seperti melanjutkan pengobatan untuk tekanan darah tinggi, diabetes, atau seperti membutuhkan kacamata untuk sepanjang hidup. Jadi, tidak benar kalau inhaler membuat ketagihan.

    Mengandung steroid yang bisa membahayakan?
    Faktanya, banyak orang mengaitkan steroid dengan efek berbahaya, seperti pertumbuhan terhambat, tulang lemah, dan lainnya. Inhaler memiliki steroid dalam dosis mikrogram (µg), yaitu 1.000 kali lebih sedikit daripada dosis miligram (mg) dalam steroid oral.

    Selain itu, inhaler diberikan langsung ke saluran napas dan tidak langsung diserap dalam tubuh sehingga memiliki efek samping yang minimal dibandingkan jika diberikan dalam bentuk tablet. Steroid merupakan bagian integral dalam meredakan gejala asma karena asma adalah penyakit inflamasi. Sebaliknya, jika steroid tidak digunakan untuk mencegah asma yang memburuk, ini dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan menyebabkan masalah jangka panjang.

    Obat oral lebih efektif daripada inhaler?
    Faktanya, berbagai studi dan penelitian menunjukkan obat oral kurang efektif karena membutuhkan waktu lebih lama untuk bekerja saat serangan asma sementara inhaler memberikan obat langsung ke saluran udara sehingga dapat memberikan pertolongan cepat.

    Dengan cara ini, kita membutuhkan dosis obat yang lebih sedikit dan efek samping yang lebih sedikit. Misalnya, tablet asthalin 2 mg setara dengan 20 isapan inhaler asthalin karena setiap isapan hanya mengandung 100 gr.

    Inhaler hanya boleh digunakan untuk kasus asma parah?
    Faktanya, inhaler memiliki obat yang tidak hanya meredakan tetapi juga mengontrol asma untuk jangka panjang. Asma adalah penyakit kronis yang bertahan lama tetapi sepenuhnya dapat dikendalikan, tidak dapat disembuhkan, dan jika tidak diobati dapat menjadi parah sehingga tidak bisa dikendalikan. Jadi, inhaler yang menjadi andalan pengobatan asma sebaiknya digunakan secara rutin agar tidak berubah menjadi asma yang parah.

    Asma dapat disembuhkan?
    Faktanya, asma adalah kondisi jangka panjang dan kronis yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, baik dengan menggunakan inhaler atau obat lain yang direkomendasikan. Tapi, itu sepenuhnya dapat dikontrol dan pasien dapat menjalani kehidupan yang benar-benar normal.

    Gejala-gejala yang disebabkan oleh asma dapat mereda dalam jangka waktu tertentu dan obat-obatan yang diperlukan pada akhirnya dapat berkurang atau berhenti, tetapi bukan berarti telah sembuh. Untuk pasien yang asmanya dipicu setelah lama tidak minum obat, serangan asma berikutnya bisa berakibat fatal. Inilah sebabnya disarankan untuk terus minum atau menghentikan obat (inhaler) hanya atas saran dokter.

    Baca juga: Napas Lapang dengan Inhaler  


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.