Jumat, 20 April 2018

Apa Itu Gaya Hidup Sedentari? Bisa Ancam Jiwa? Cek Solusinya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi santai. tapetus.pl

    Ilustrasi santai. tapetus.pl

    TEMPO.CO, JakartaGaya hidup sedentari adalah kebiasaan-kebiasaan dalam hidup yang tidak melibatkan banyak aktivitas fisik, atau dengan kata lain tidak banyak melakukan gerak. Gaya hidup sedentari telah menjadi isu penting di Indonesia maupun seluruh dunia.

    Hal ini karena sedentari telah terbukti menjadi faktor penyebab meningkatnya penyakit tidak menular(PTM). Dan dengan meningkatnya PTM secara otomatis akan menghambat masyarakat memiliki kehidupan yang lebih baik.

    Baca juga:
    Kopi Jamur Disebut Lebih Rendah Kafein, Kok Bisa?
    Empat Penyebab Bau Mulut, Simak Cara Mengobatinya
    Ini 3 Stadion Olahraga di Dunia yang Memiliki Arsitektur Menawan

    Menurut data dari World Health Organization(WHO) tahun 2017, tercatat salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan dunia adalah PTM, seperti stroke, penyakit jantung dan diabetes mellitus. Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) tahun 2013 dari Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa sebesar 24,1 persen penduduk Indonesia menjalani perilaku sedentari lebih dari enam jam dalam satu harinya.

    Dalam acara Anlene: Ayo Indonesia Bergerak yang diselenggarakan di Rumah Imam Bonjol, Jakarta pada 11 April 2018, dokter spesialis kedokteran olahraga, Ade Jeanne L. Tobing, menjelaskan pentingnya untuk melakukan aktivitas gerak.

    Ade mengungkapkan bahwa tulang, sendi dan otot bekerja sama dalam mendukung setiap gerakan yang Anda lakukan setiap hari. Tulang merupakan jaringan hidup yang akan mengalami perusakan dan pembentukan kembali. Karena itu, latihan fisik pembebanan yang dapat membentuk jaringan tulang baru akan membuat tulang lebih kuat dan padat. "Aktivitas semacam ini juga bisa membuat sendi lebih fleksibel dan otot lebih kuat."

    Untuk melawan gaya hidup sedentari, biasakan untuk melakukan aktivitas fisik ditambah dengan latihan fisik untuk orang dewasa. Hal ini sesuai dengan anjuran yang diberikan WHO, "Untuk orang dewasa lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit ditambah dengan 30 sampai 60 menit latihan fisik sehari," ucap wanita yang juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga ini.

    Dan Ade mengingatkan, tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun harus melakukan aktivitas. Kegiatan bermain anak di luar, dalam artian bukan bermain gadget, merupakan cara anak menjaga kesehatan tulang, otot serta sendinya.

    Anjuran dari WHO, anak juga harus punya gaya hidup sehat. Yaitu harus melakukan aktivitas gerak dengan total 60 menit dalam satu hari. Namun, lanjut Ade, hal ini bukan berarti anak melakukan gerak dalam waktu satu jam penuh, "Bisa dibagi waktu dalam satu hari, misalkan 20 menit di tiap aktivitas bermainnya." Yang terpenting, menurut Ade, adalah terapkan total 60 menit aktivitas gerak anak dalam satu hari. 


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Bandara Kertajati Siap Sambut Musim Mudik

    Tahap pertama pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, nyaris rampung. Bandara internasional tersebut ditargetkan siap sambut pemudik.